
5 Kebiasaan Buruk Berkendara dengan Motor Matic, Cepat Rewel
Kendaraan dengan embel-embel “matic” sering kali dicap lebih rewel dibanding kendaraan manual. Begitu juga dengan motor matic.
Ringkih dan sulit diperbaiki jadi kesan negatif yang dirasakan banyak orang.
Anggapan ini sebenarnya tidak sepenuhnya salah, terlebih kalau ibiders sering melakukan kebiasaan berkendara motor matic berikut ini
Baca juga: 5 Cara Merawat Kampas Rem Motor, Jangan Abai!
1. Mengandalkan satu rem pada kecepatan tertentu
Tak sedikit yang mengandalkan satu pengereman saja pada kecepatan tertentu. Padahal, rem belakang dan rem depan punya fungsi berbeda.
Rem belakang, misalnya, bertugas menyeimbangkan motor saat ingin berhenti. Letaknya di tuas sebelah kiri.
Sedangkan rem depan fungsinya menghentikan laju motor dan berada di tuas sebelah kanan.
Melansir Kompas.com, rem belakang disarankan untuk pengereman saat laju motor 30 km/jam, sementara di atas 30–80 km/jam idealnya menggunakan kombinasi rem depan dan belakang.
Kalau sering rem mendadak, kampas rem akan cepat aus atau kecelakaan tak terhindarkan.
2. Gas ditarik kencang
Apakah kamu sering gas motor tiba-tiba saat mesin di putaran bawah? Waduh, jangan dijadikan kebiasaan, lho.
Sebab, rantai, mesin, dan transmisi akan mendapat stres berlebih yang bisa berakibat buruk pada usia komponen. Bahkan, motor bisa jadi lebih boros.
Kalau ingin gas motor, lakukan secara perlahan, setidaknya 2–5 detik.
3. Tarik gas dan rem bersamaan
Satu lagi kebiasaan berkendara matic yang bikin motor cepat masuk bengkel, yakni menarik gas dan tuas rem secara bersamaan dengan alasan menyimbangkan laju motor.
Padahal, kalau dilakukan terus-menerus, kampas kopling dan kampas rem bakal cepat aus.
Baca juga: Motor Matic Bergetar saat Digas? Coba Cek Komponen Ini!
4. Sering rem mendadak
Ketika melaju, penting untuk memprediksi kapan kendaraan harus direm. Kalau abai, pasti harus rem mendadak.
Selain membahayakan pengguna jalan, rem mendadak juga berisiko bikin motor selip.
Kerja motor pun lebih berat karena harus melakukan akselerasi dari sekian km/jam ke nol sehingga lebih boros.
5. Jarang ganti oli CVT
Selain dibersihkan, CVT juga perlu diganti olinya. Komponen ini terdiri dari housing, v-belt, dan pulley yang harus dibersihkan setiap 6.000–8.000 km.
V-belt juga perlu diganti setiap 20.000–24.000 km tergantung gaya berkendara. Kalau jarang ganti oli gardan, motor akan brebet dan CVT berakhir rusak.
Punya motor matic jangan hanya dikendarai saja, apalagi kalau ugal-ugalan di jalanan. Perlu dibarengi servis rutin agar performa motor tetap terjaga.

Baca juga: 5 Faktor yang Bikin Harga Jual Motor Bekas Tinggi
Daripada motor nganggur setelah diservis, mending dijual di balai lelang IBID biar cuan.
Titip jual motor bekas di IBID mudah dan aman. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.ibid.astra.co.id atau unduh aplikasi IBID di Google Play Store dan App Store.
Ikuti juga akun media sosial resmi IBID di bawah ini.
Instagram: @ibid_balailelangserasi
Facebook : IBID - Balai Lelang Serasi
TikTok : @ibid_balailelangserasi
YouTube : IBID - Balai Lelang Serasi
Twitter : @ibid_lelang





